Pakistan, Lahore city, last independence days, August 14th 2017.
Hello. Assalamualaikum para blogger yang manis aur kubsurrat π. Aap keise ho? Theek hun kah na? I hope semuanya theek hun. Haan G. π
Saya ingin bercerita sedikit tentang suasana Pakistan khususnya kota Lahore pada perayaan Independence day pada tanggal 14 lalu nih. Hohoho π. Tapi sebelumnya saya ingin cerita dulu tentang kota Lahore itu sendiri. Sedikit saja dan saya harap Anda jangan bosan. Hehehe. Maklum saya bloggerwati yang awam. ππ
Lahore tak ubahnya seperti kota kedua yang terkenal di Punjab Province, Pakistan Region setelah blue or green Capital. Blue or green Capital itu sendiri adalah Islamabad. Kota ini sangat dekat dengan negara India yaitu bagian Amritsar city (Anandi series) dibandingkan ibukota baru Pakistan, Islamabad π. Ahh saya ini sok tahu ya.. ππ Ya memang tahu ππ. Di Lahore lebih tenang daripada di Kashmir. Tidak banyak conflic. Karena sebagian agama besar di sini yaitu Islam dan Hindu hidup damai berdampingan dan saling menghargai. Kota ini terkenal dengan kepadatan penduduk dan rumah-rumah yang sangat menempel satu sama lain. Namanya juga padat jadi tidak banyak gang-gang kecil untuk berjalan. Lahore juga terkenal dengan pusat perbelanjaan (merk-merk terkenal semauanya ada lho), taman kota yang tertata rapi dan Masjid besarnya (Aku lupa nama Masjidnya). Hehehe. Meskipun suasana juga panas dimalam hari, tetap saja banyak orang yang lalu lalang di bazar-bazar untuk membeli atau sekedar jalan-jalan manikmati suasana malam dan menghilangkan penat. Motor, mobil, minibus, riskshow atau bajajnya Pakistan banyak banget yang nongol. Macet kaya Jakarta deh.
Apalagi malam sabtu dan minggu. Fuiihhh kayak jalan-jalan di New York deh. Gak ada sepinya. Hahaha ππ
Jangan kaget kalau Anda (wanita) jika sedang berada di luar flat terutama di semua bagian kota-kota Pakistan bertemu dengan banyak pria-pria baik tua maupun muda menatap Anda dengan sedikit gimana gitu. Ya maklumlah disana wanita tidak terlalu bebas berpendapat ataupun bertingkah laku seperti di Indonesia. Jangan takut atau apa cuma saya sarankan Anda harus bersama orang lokal jika ingin sekedar keluar untuk jalan-jalan. Takutnya ya gitu deh. Hehehe π. Tapi sebenarnya mereka itu ramah-ramah lho, ya walaupun tidak semua. Jangan kaget juga jika Anda (laki-laki) ketika bertemu laki-laki Pakistan langsung dipeluk hangat Ala teletubbies. Dan cipika cipiki gitu. Wuih seperti ibu-ibu PKK nan cantik membahana. π¨π¨. Kadang kala juga mengelus-elus kepala kita. Ya namanya salam sapa hangat ala-ala Pakistan. Sekali lagi jangan kuatir. Itu adalah kebiasaan mereka yang sangat kental dengan Islam dan budaya. Kalau budaya kita yang kayak gitu namanya ora sopan. Iya to?ππ
Sampai lupa mau langsung to the point. Biasa kalau masalah cerita budaya saya jadi kalap. Hahaha
Darimana saya mau mulai, saya kebingungan. Panggil Pak Tarno dong biar bisa bantu saya. Ahh mulai ngaco lagiππ
Magrib di Pakistan tidak lah sama dengan Magrib di Indonesia. Di Pakistan Magrib time biasanya datang sekitar pukul 07.30 pm waktu setempat. Dan gelap akan tiba bila akan masuk waktu ba'da Magrib. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana gelap tiba pada jam jam 8 pm. Siang yang lama kan. ππ
On the way selepas Isya' Namaz atau Sholat Isya'. Serasa naik minibusnya teman saya. Namanya Shehroz B, pria mandiri dari Lahore. Itulah panggilan saya ke dia. Membawa saya ke pusat kota Lahore nan indah. Hawa panas pun tak jadi problema, asal disuguhkan dengan pemandangan yang tak kalah cantiknya. Menikmati perkusi jalanan yang sangat etnic. Mau nimbrung tapi tidak tahu lagunya. Terpaksa jadi penonton saja. Setelah puas menikmati perkusi lanjut dengan membeli dan menyapa beberapa para pedagang bazar street yang hanya buka di malam hari. Next mencari street food dan makan masakan khas Pakistan yaitu nasi bryani dan kebab ππ. Soalnya lapar sudah terlalu lama menghadang. Hahaha ππ. Mereka, para pedagang tidak terlalu mahir berbahasa English and Urdu. Bahasa Punjab saja yang terdengar. Wuih sayanya yang tidak paham. Lebih baik ngomong secukupnya daripada ramai nih. ππ.
Namanya juga Independence night so still already to travelling. ππ Mumpung masih libur panjang juga. ππ
Jalan-jalan lagi mengelilingi taman kota dengan pemandangan lampu kerlap-kerlip disetiap pohonnya. Andai saja punya pasangan ini terasa sangat romantis. Maaf saya ngaco lagi. π
Puncak kemeriahnya yaitu pas dinyalakan any fireworks in the sky. Wow. Subhanallah. Serasa malam tahun baru aja ketika di tanah kelahiran Indonesia. Seperti di banyak negara, semua orang terlihat bahagia dengan membawa atribut-atribut Pakistan, seperti flag, syal, tophead dan masih banyak lagi. Dan menghabiskan malam dengan nobar di taman kota. Film kolosal Pakistan. Tak terlalu paham Urdu, saya hanya bisa menjadi penonton lagi. Tapi tak apalah. ππ
Hmmm pokoknya awesome banget Lahore city bertepatan dengan Pakistan Independence past time. π
Cukup sekian deh ceritanya. Maklum tangan saya mulai cenat-cenut. Hahaha ππ
Any guess para blogger? Tell me about your guess and story ya. Baht-baht shukrya. Terima kasih banyak. πππ
Darimana saya mau mulai, saya kebingungan. Panggil Pak Tarno dong biar bisa bantu saya. Ahh mulai ngaco lagiππ
Magrib di Pakistan tidak lah sama dengan Magrib di Indonesia. Di Pakistan Magrib time biasanya datang sekitar pukul 07.30 pm waktu setempat. Dan gelap akan tiba bila akan masuk waktu ba'da Magrib. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana gelap tiba pada jam jam 8 pm. Siang yang lama kan. ππ
On the way selepas Isya' Namaz atau Sholat Isya'. Serasa naik minibusnya teman saya. Namanya Shehroz B, pria mandiri dari Lahore. Itulah panggilan saya ke dia. Membawa saya ke pusat kota Lahore nan indah. Hawa panas pun tak jadi problema, asal disuguhkan dengan pemandangan yang tak kalah cantiknya. Menikmati perkusi jalanan yang sangat etnic. Mau nimbrung tapi tidak tahu lagunya. Terpaksa jadi penonton saja. Setelah puas menikmati perkusi lanjut dengan membeli dan menyapa beberapa para pedagang bazar street yang hanya buka di malam hari. Next mencari street food dan makan masakan khas Pakistan yaitu nasi bryani dan kebab ππ. Soalnya lapar sudah terlalu lama menghadang. Hahaha ππ. Mereka, para pedagang tidak terlalu mahir berbahasa English and Urdu. Bahasa Punjab saja yang terdengar. Wuih sayanya yang tidak paham. Lebih baik ngomong secukupnya daripada ramai nih. ππ.
Namanya juga Independence night so still already to travelling. ππ Mumpung masih libur panjang juga. ππ
Jalan-jalan lagi mengelilingi taman kota dengan pemandangan lampu kerlap-kerlip disetiap pohonnya. Andai saja punya pasangan ini terasa sangat romantis. Maaf saya ngaco lagi. π
Puncak kemeriahnya yaitu pas dinyalakan any fireworks in the sky. Wow. Subhanallah. Serasa malam tahun baru aja ketika di tanah kelahiran Indonesia. Seperti di banyak negara, semua orang terlihat bahagia dengan membawa atribut-atribut Pakistan, seperti flag, syal, tophead dan masih banyak lagi. Dan menghabiskan malam dengan nobar di taman kota. Film kolosal Pakistan. Tak terlalu paham Urdu, saya hanya bisa menjadi penonton lagi. Tapi tak apalah. ππ
Hmmm pokoknya awesome banget Lahore city bertepatan dengan Pakistan Independence past time. π
Cukup sekian deh ceritanya. Maklum tangan saya mulai cenat-cenut. Hahaha ππ
Any guess para blogger? Tell me about your guess and story ya. Baht-baht shukrya. Terima kasih banyak. πππ















Komentar
Posting Komentar